Tuesday, January 13, 2009

Pidato Steve Job si pendiri Apple Macintosh yang menakjubkan (bagi saya)

Pidato Steve Job (pendiri Apple & Pixar) di Acara Wisuda Stanford University


Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah
selesai kuliah.


Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.


Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik...

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun
saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah.


Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.


Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan"
dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.


Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya
pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya.


Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin bayi perempuan.


Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya,
mendapatkan telepon larut malam dari seseorang:
"kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat?


Mereka menjawab: "Tentu saja."


Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah
lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat
SMA.


Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi.
Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya
berjanji akan menyekolahkan saya
sampai perguruan tinggi. Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.


Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya
dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya
pegawai rendahan-habis
untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya.


Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan
bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya.


Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya
seumur hidup mereka.


Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik.


Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai
keputusan terbaik yang pernah saya ambil.


Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya
minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.


Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos
sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya.


Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk
membeli makanan.


Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat
makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.


Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan
intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.


Saya beri Anda satu contoh:


Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal
kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan
sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan
normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar
jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar
kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa
keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains.
Sangat menakjubkan.


Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan
saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer
Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang
bertipografi cantik.


Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan
memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk
dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC
yang seperti itu.


Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas
kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.


Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya
masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.


Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke
depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang.


Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan
terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir,
jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini
efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.


Cerita Kedua Saya : Cinta dan Kehilangan.


Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan
saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun.


Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami
berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.


Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun
sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30.


Dan saya dipecat.


Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah,
itulah yang terjadi.


Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat
berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya.


Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul
perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan.


Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.


Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa
saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.


Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.


Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya
-saya gagal mengambil kesempatan.


Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas
keterpurukan saya.


Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari
dari Silicon Valley.


Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai
pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya.


Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.


Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa
dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya.


Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai
pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas.


Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.


Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT,
lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya.


Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi
komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi
paling sukses di dunia.


Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan
saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT
menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple.


Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin
takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple.


Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya.
Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan.


Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah
karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai.


Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan
menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan
mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.


Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah.
Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya.


Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya.


Jadi, teruslah mencari sampai ketemu.


Jangan berhenti.


Cerita Ketiga Saya: Kematian


Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih
berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari
itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar." Ungkapan
itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun
terakhir,
saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri:
"Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa
yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak"
dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.


Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya
temukan untuk membantu membuat keputusan besar.


Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut
malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya
yang hakiki yang tetap ada.


Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari
jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa.


Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.


Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan
pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas.
Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya
bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan
hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan.


Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala
sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.


Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit
segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.


Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga
Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.


Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut.


Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut
dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor.


Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana , mengatakan bahwa ketika melihat
selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah
kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.


Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat
saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.


Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan
yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:


Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun
tidak ingin mati dulu untuk mencapainya.


Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak.
Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan.


Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir
untuk digantikan yang muda.


Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.


Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.


Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil
pemikiran orang lain.


Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar
kata hati Anda.


Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan
intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan.


Semua hal lainnya hanya nomor dua.


Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama
"The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.


Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh
dari sini di Menlo Park , dan dia membuatnya sedemikian
menarik dengan sentuhan puitisnya.


Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing,
jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid.


Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran
Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.


Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole Earth
Catalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.


Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda.


Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di
pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.


Di bawahnya ada kata-kata: "Stay Hungry. Stay Foolish." (Jangan Pernah
Puas. Selalu Merasa Bodoh).


Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka.


Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.


Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya
harapkan Anda juga begitu.


Stay Hungry. Stay Foolish.


(Diterjemahkan oleh Dewi Sri Takarini, alumni sebuah perguruan tinggi di
Australia)

2 comments:

  1. Artikel anda di

    http://tokoh-teknologi.infogue.com/pidato_steve_job_si_pendiri_apple_macintosh_yang_menakjubkan_bagi_saya_

    promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!

    ReplyDelete

 

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah tempat untuk menyimpan apapun yang menarik, yang sempet terlihat oleh mata di internet.

Jangan lupa lihat tahun postingan karena bisa saja tips yang dikasih disini sudah ngga revelan.
Return to top of page Copyright © 2007 - 2012