Monday, January 19, 2009

Persepsi yang Keliru antara Konflik Palestine-Israel

Tanggal : 14 Jan 2009
Sumber : Koran Tempo



Prakarsa Rakyat,


 


Mustofa Liem, peminat masalah agama dan politik


Baru-baru ini Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur Kiai Mutawakkil Alallah mengungkapkan, kita perlu waspada terhadap keinginan menjadikan momentum konflik Hamas-Israel sebagai kesempatan untuk mencari kepentingan sendiri dengan mengorbankan kepentingan bangsa (3 Januari). Solidaritas atau perasaan senasib sepenanggungan dengan warga Palestina di Gaza memang sudah sepantasnya digelorakan, baik dalam unjuk rasa maupun pernyataan mengecam Israel. Namun, yang paling penting, di antara sesama warga bangsa sendiri, kita justru jangan terpicu untuk membuat konflik baru, gara-gara persepsi keliru dalam memandang agresi Israel di Gaza pada khususnya, serta konflik Palestina-Israel pada umumnya. Dalam konteks inilah kita patut mengapresiasi langkah perwakilan seratus tokoh lintas kelompok yang digalang Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin ketika mendatangi Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jakarta (7 Januari).


Jujur saja, di tengah blowup media atas pemberitaan agresi Israel ke Gaza, penulis sering kali bertemu dengan umat Islam yang punya persepsi keliru. Salah satunya adalah seolah umat kristiani di dunia, termasuk di negeri kita, berada di kubu pemerintah Zionis Israel. Persepsi keliru itu tampak rasional karena Israel memang selalu dibela oleh Amerika Serikat, yang presidennya selalu beragama Kristen.

Bahkan persepsi keliru itu sudah muncul puluhan tahun lalu. Guna menjelaskan kesalahan persepsi ini, pernah Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua Pesekutuan Gereja Indonesia Dr A.A. Yewangoe, dan Kardinal Julius Darmaatmaja sampai menggelar konferensi pers khusus yang menegaskan bahwa konflik di Palestina bukanlah konflik Islam versus Kristen (4 April 2002), karena umat Islam dan Kristen Palestina justru sama-sama sedang berjuang mewujudkan satu negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Dalam kunjungannya ke Indonesia pada Juli 1984, Arafat juga menegaskan bahwa perjuangan Palestina melawan Israel bukan berdasarkan agama. Dari 4 juta warga Palestina, sekitar 85 persen adalah Islam dan 15 persen Kristen.


Terkait dengan relasi antara warga Palestina yang muslim dan Kristen, faktanya, secara tradisional dan dari generasi ke generasi juga selalu baik. Kebetulan penulis juga punya kontak dengan pemikir-pemikir Palestina yang muslim atau Kristen seperti pastor atau biarawati. Relasi kedua umat itu justru patut dibanggakan. Pernyataan ini bukanlah tanpa bukti. Misalnya Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) punya menteri Kristen juga, yakni Hosam al-Taweel. Misalnya lagi, setiap Natal, para pemimpin Palestina selalu mencoba hadir di Gereja Kelahiran Yesus di Betlehem, meski penguasa Zionis sering menghalangi. Bahkan, kalau pemimpin Palestina tidak bisa hadir di gereja itu, selalu tersedia satu kursi kosong. Sejarah bisa menjadi saksi betapa harmonisnya relasi umat Islam dan Kristen di Palestina.


Menyangkut Gereja Kelahiran di Betlehem, kalau menengok sejarah, kita tentu masih ingat kejadian menarik pada 23 Maret 2000, ketika mendiang Paus Yohanes Paulus mempersembahkan misa di sana. Ketika Paus memimpin misa yang juga dihadiri Arafat (mendiang) dan Suha, ada satu kejadian menarik. Sewaktu mengakhiri khotbahnya, terdengar azan dari sebuah masjid dekat Manger Square, di luar Gereja Kelahiran Kristus Betlehem. Paus, yang baru saja mengenakan topi kebesaran kepausan (mitra) untuk meneruskan tahapan misa berikut, kemudian duduk dan diam. Para pembantunya yang terdiri atas beberapa kardinal, uskup, dan pastor juga berdiam diri mengikuti sikap Paus sampai azan itu berakhir. Umat, termasuk Presiden Palestina Yasser Arafat dan istrinya, Suha, yang duduk di jajaran terdepan dari umat, langsung bertepuk tangan memberi apresiasi pada sikap Paus.


Paus tidak hanya mengajarkan toleransi, tapi perlu diketahui, Vatikan selalu menjadi penyokong utama bagi perjuangan Palestina. Para pastor Katolik atau pendeta Kristen Palestina lainnya juga aktif dalam memberi dukungan bagi perjuangan Palestina. Misalnya, dalam perjuangannya semasa memimpin Organisasi Pembebasan Palestina, Arafat juga memiliki beberapa penasihat. Salah satunya pastor Katolik Ibrahim Iyad. Menurut Alan Hart dalam biografi Arafat: Terrorist or Peacemaker? (London, Sidgwick & Jackson, 1987), dari Pastor Iyad, yang merupakan putra asli Palestina, dunia tahu bahwa Arafat akan terus berjuang sampai akhir hayatnya untuk meraih kembali bumi Palestina yang dirampas kaum Zionis.


Para pastor itu dekat dengan Arafat juga tak berpamrih mengkristenkan Arafat. Ini perlu dikemukakan karena Pendeta Amerika R.T. Kendall dulu pernah mencoba mengkristenkan Arafat dan ditanggapi meluas di negeri kita. Padahal orang-orang Kristen Palestina asli tidak perlu melakukan hal seperti itu. Kristen dan muslim Palestina sudah saling memiliki toleransi dan penghargaan jujur sepanjang ribuan tahun, sehingga mereka tak berniat mengislamkan atau mengkristenkan saudaranya. Sekadar informasi, Kristen Palestina sudah ada sejak zaman Nabi Isa alaihis salam atau Yesus, sehingga mereka bukan hasil produk Kristen Barat atau Amerika. Tidak mengherankan, ketika tentara Salib menyerbu Palestina pada abad X, Kristen asli Palestina pun ikut menjadi korban.


Karena itu, Presiden Palestina Mahmud Abbas, misalnya, akan segera angkat bicara jika ada pihak dari luar yang mencoba mengadu domba bangsanya. Bahkan, kepada Usamah bin Ladin, Abbas pernah marah karena Usamah berjuang melawan Amerika dengan memanfaatkan isu Palestina, sehingga melahirkan persepsi keliru seolah ada dikotomi antara Islam-Kristen di Palestina. Apalagi uang yang dipakai Usamah sebenarnya sangat berarti bagi warga Palestina.


Karena itu, menurut Abbas, siapa pun yang ingin berjuang bagi bangsanya, perjuangan itu pertama-tama bisa disalurkan untuk menolong warganya yang kini dilanda kemiskinan dan kepedihan akibat penjajahan Israel. Bayangkan, 75 persen dari 4 juta warga Palestina saat ini (di Tepi Barat ada 2,5 juta jiwa, di Gaza ada 1,5 juta) hidup dengan biaya kurang dari US$ 2 per hari. Khusus bagi warga Palestina di Gaza, tentu penderitaan makin berat akibat agresi Israel sejak 27 Desember 2008. Jadi mereka lebih butuh makanan dan obat-obatan. Maka pengiriman para sukarelawan kita untuk membantu tentara Hamas jelas kurang efektif. Namun, yang penting di atas semuanya, di antara sesama warga bangsa kita sendiri, kita jangan justru berkonflik gara-gara persepsi keliru dalam memandang agresi Israel ke Gaza kali ini. *


sumber : http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/fokus/artikel.php?aid=32308

No comments:

Post a Comment

 

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah tempat untuk menyimpan apapun yang menarik, yang sempet terlihat oleh mata di internet.

Jangan lupa lihat tahun postingan karena bisa saja tips yang dikasih disini sudah ngga revelan.
Return to top of page Copyright © 2007 - 2012